Showing posts with label PHILOSOPHY. Show all posts
Showing posts with label PHILOSOPHY. Show all posts

Thursday, November 21, 2013

WHEN THE DOORS SHUT - MANAKALA PINTU-PINTU MENUTUP

Hello pembaca!

Pada tulisan ini, saya menulis dalam Bahasa Indonesia. Pada mulanya, di dalam benak saya ada beribu kata dalam Bahasa Inggris, namun entah mengapa jari-jari ini menari di atas tuts keyboard mengalir begitu saja dalam Bahasa Indonesia (mungkin karena sedikit berbau curhat?)

Akhir-akhir ini, saya sedikit meluangkan waktu untuk berefleksi pada banyak langkah yang saya ambil dalam pikiran, perkataan dan perbuatan yang menyangkut kehidupan sosial maupun karir. Dalam perenungan itu, saya mendapatkan diri saya berpikir, berkata dan berbuat dalam banyak kapasitas yang sangat fantastis. Seakan-akan, segala yang saya perbuat itu bukanlah saya karena begitu hebatnya karya-karya itu. Namun, secara kontras juga saya menemukan perbuatan, pemikiran dan perkataan yang sepertinya merugikan. Di ujung perenungan itu, saya mendapatkan bahwa ternyata semua yang saya lakukan, baik itu tampaknya menguntungkan, maupun merugikan, tidak ada satupun yang buruk. Mengapa demikian? karena ternyata seringkali saya memulai segala sesuatu dengan doa. Doa yang saya panjatkan kepada Tuhan adalah untuk memberikan yang terbaik dalam segala situasi. Doa yang memohon agar saya disiapkan dan didampingi dalam segala situasi. 

Alhasil, itulah yang membuat saya - dalam naik turunnya ritme kehidupan ini - terus mendapatkan kepercayaan untuk lebih maju dalam pemikiran, perkataan dan tindakan baik dalam hidup sosial maupun karir. Teman, saya bukanlah orang yang pintar, tapi saya punya keyakinan untuk maju dan berbagi. Mungkin itu yang membuat orang berpikir saya pintar.

Saya masih ingat, bagaimana banyak ide-ide fantastis yang saya lontarkan - tentunya ide-ide tersebut adalah ilham dari Tuhan - dan menjadi kenyataan yang menyenangkan. Namun, ada juga beberapa ide yang baik namun berujung pada hal-hal yang kurang meyenangkan. Salah satu contoh adalah bagaimana beberapa bulan yang lalu saat saya hendak menjalankan ide tentang kedisiplinan dan semuanya kandas di tengah jalan karena ketidaksepahaman. Ketika hal itu terjadi, saya merasa limbung seakan-akan semua pintu kesempatan telah menutup untuk saya masuki. Namun, blessing in disguise! Karena seperti saya katakan tadi bahwa banyak hal yang saya lakukan ada dalam darasan doa-doa saya, Tuhan memang tidak tidur. Saat saya merasa semua pintu menutup, lobang-lobang cahaya yang ada pada sela-sela pintu dan jendela memberi penerangan. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, saya melihat banyak berkas cahaya yang menerangi pikiran. Ada kata-kata yang begitu kuat untuk melihat sekeliling saya dengan lebih jeli dan teliti.

Anda tahu, di saat terburuk itu, saya bisa dengan segera membedakan mana teman yang mendukung dan mana teman yang kurang mendukung. Banyak hal terjadi yang dalam pencernaan pikiran dan perasaan saya, sangat membuat saya bertanya-tanya akan apa yang telah saya perbuat selama ini. Pertanyaan besar terlintas dalam benak saya, "Apakah saya memang benar-benar diterima secara utuh atau tidak?" Tampaknya Tuhan berjalan mendampingi saya untuk mengatakan, "Ayo, kamu harus belajar dari situasi ini. Kamu mungkin salah di mata orang lain, tapi belum tentu salah. Bangkit karena kamu sangat berharga dan masih banyak yang bisa kamu lakukan!"

Beberapa minggu setelah peristiwa tersebut, ada seakan-akan dorongan yang kuat. Saya memberanikan diri untuk berkata pada diri saya, "berhentilah mengerjakan sesuatu walaupun kamu adalah yang terbaik untuk hal itu". Berkas-berkas cahaya yang tadi menerangi langkah saya telah mendorong saya untuk menemukan satu pintu besar yang disebut dengan berkat alias blessing. Saya arahkan Tuhan untuk sesuatu yang baru - mungkin tidaklah besar namun pastilah berarti. 

Di ujung karir saya ketika itu, saya memutuskan pada menit-menit terakhir untuk move on, beranjak dari titik nadir. Satu hal yang sampai tulisan ini bergulir, saya tidak menyesal untuk segala keputusan yang saya ambil karena dalam keputusan itu, saya membagi segala beban dengan Tuhan yang selalu berjalan mendampingi. Satu per satu jalan mulai terbuka. Memang harus diakui, jalan yang sekarang saya lewati bukanlah jalan mudah tapi bukan berarti tidak dapat saya lewati. Saya tidak menyesal sedikitpun untuk melangkah. Bahkan, jujur saja, saya memiliki keengganan untuk bertemu dengan teman-teman dari masa lalu terutama ketika mata hati saya mulai jeli dan teliti. Seringkali, bulu roma ini bergidik sendiri. 

Sekarang, lihatlah saya ada di sini. Ada kegembiraan, kecemasan, tantangan dan harapan yang bercampur aduk. Namun, apa sih yang mulus dalam hidup ini? Hidup kita adalah perjuangan. Untuk semuanya itu, saya siap berbagi tentang perjuangan yang saya alami. 

Saya sekarang hampir menginjak usia kepala 4 dan saya berbahagia bersama orang-orang yang mencintai saya dan tentunya, bersama Tuhan.


salam semangat!



Hugo







Sunday, October 7, 2012

ARE WE WISE OR FATALIST TECHNOLOGY USERS?



Hugo D Gunawan I
Language Advisor: Frances Hazle

“The technology development drives people into two mainstreams:
wise and fatalist users”.

It’s a common thing now in big cities in Indonesia, to see a 7-year-old children play with a sophisticated handheld. The words: pad, tab, touch screen, swipe, wifi, online and many other technological words, are often heard from our children’s conversation. The rapid changes of technology cannot be avoided. In line with the rapid changes of technology, the mid level society in Indonesia is massively growing. 

The phenomenon of positive growth of economics in Indonesia has been predicted. This phenomenon triggers some changes in many aspects such as life style, education and living cost. Life style is mostly related with technology changes. The closest example is the technology exploration on handheld. The handheld that we knew before was mostly for calling and texting. Unavoidably, the technology has had to touch up the handheld we use today.

The changes in our handheld consist of the colored screen, integrated camera, more capacity for text characters, multimedia service (MMS), integrated music player, touch screen, internet access,  etc. , you name it. It seems that the new products bring a lot of changes that users cannot resist having. The unbearable resistance to have the latest technology is triggered by the growth of social media that have been integrated to the Internet bundling within the handheld.

As most of us are in mid level society, the impact of this technology growth does exist. Our kids are whining to have the newest product from Apple or Samsung i.e. iPhone, iPad, and the MacBook series for Apple, and Galaxy series phone and Galaxy Tab as the iPad competitor. We cannot cover our ears when husband or wife also argue with each other about how important it is to have iPad to support their work.  At the end of the day, we should be honest with each other, is it for work or life style? Are we insisting on following the latest technology fad for recognition?

The technology development drives people into two mainstreams: wise and fatalist users. The reason behind our motivation in keeping up with the latest technology offered by all gadgets is questionable. Unfortunately, we can “pull our brake” while our kids cannot. It is not because our kids do not have self-control. It is mainly because they belong to this technology era and have not reached maturity in deciding what is best for them. They can stare at their gadgets for hours and try all applications while adults like us worry too much about spending more money to fix the gadgets supposing they are broken.

How can we keep up with what our kids know? To be honest, there’s no other way than dedicating our time to learn what they know from them directly. Most of us think that we are too busy to sit and learn the games that our kids are playing. Or worse, most of us think that we are too old to know such things. Even worse, most of us think that what they are playing are useless. The willingness is the key. The rest is time dedication and management.

“Getting involved in educating and nurturing within 21st century education
is not only school responsibility but also parents’ ”

The best thing that we will get when we are spending time with our kids is a better family relationship. There are three things we will have. First, we will be able to justify and influence our kids in choosing and valuing the right games. Second, we will be able to facilitate our kids to think naturally. The last, we will be able to operate new things in our golden age!
The positive impacts are more dominating than the negative ones. Once again, we should sacrifice our time though.

The use of technology is also widely misused by our kids. The boredom, peer pressure and addiction are some reasons technology misuse. Rules have been introduced at home and school to minimize the tendency of misusing. The best part of anticipating this technology abuse should be coming from the users. At this point, basically, it is personal calling to know whether the users want to be wise users or fatalist users. Covering as the shield for personal calling will be the maturity. How do our kids get their maturity? They get their maturity from their families and environment. Remember, we raise our kids with the consideration that their maturity meets the age and is at the right time.

The wise users will consider cutting the word fun into two categories, which are fun to help, and fun to use. Fun to help, of course, the users know that the gadgets offer a lot of fun to help users open their mind. On the contrary, the fatalist users will think that the gadgets are fun to use. Addiction is going to be the result. To be wise or fatalist users, you do not need be kids, adults might do a similar thing. Therefore, the role of parents and teachers in building wise users is critical.

There are a lot of ways to guide users into becoming wise users. The technological gadgets are in trend putting educational games to help our kids to learn academically. Adults will need to make an effort to select and apply these educational games. At this point, educational games cannot always become an oasis to rely on. Addiction is another result for fatalist users. It is kind of funny to hear that the kids are addicted to educational games and cannot put their gadgets away.  Therefore, knowing the right time and the timing will be of great help. 

Getting involved in educating and nurturing within 21st century education is not only school the responsibility but also the parents’. As it was mentioned in the beginning of the article, the impact of the economic growth is in symbiosis with almost all technological aspects in our lives. That is why it is important for us to know how technology is used in different perspectives among generations. Otherwise, we are going to raise fatalist technology users. To be honest, we don’t want to end up in such a situation, do we? Being parents and teachers in this technological generation is not an easy thing to do. As there’s no institution running educational session to prepare one as parents, we, as parents are required to be committed in paving the way for the success of our kids. In conclusion, I would like to quote what people often say,” no pain, no gain”.


Hugo D Gunawan I is currently Tunas Muda International School Secondary Coordinator and an IB Asia Pacific PYP Bilingual Workshop Leader. He also writes his ideas at http://guruhugo.blogspot.com


References:

·      Booklet Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia Agustus 2012 Badan Pusat Statistik, ISSN: 2085.5664 Publication Number: 03230.1203
·      Boss, Suzie. Edutopia: A Parents Guide to 21st Century Learning © 2012 The George Lucas Educational Foundation

Monday, September 10, 2012

GURU BERPRESTASI

"Ketika prestasi guru diterjemahkan dalam suatu penilaian 
maka peran agen perubahan itu gugur"

Beberapa kali saya membaca berita tentang guru berprestasi. Dalam benak saya, terlintas kekaguman setelah selesai membaca berita-berita tersebut. Kekuatan berita itu sungguh membuat saya terkesiap dan berkata pada diri saya sendiri,"Benar-benar hebat mereka ini."
Namun begitu, setelah mengalami pengendapan beberapa saat, saya mulai tergelitik oleh beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah, apakah mereka yang tidak 'terjaring' dalam kategori berprestasi itu tidak berprestasi? Semoga saja tidak.

Salah satu peran guru dalam masyarakat adalah sebagai agen perubahan. Dengan pengajaran yang diberikan, para guru bisa memberikan visi menjadi misi pada anak-anak didik mereka. Sebuah tatanan masyarakat akan sangat timpang tanpa kehadiran guru yang memberikan pengajaran ilmu hidup, melengkapi apa yang generasi muda dapatkan dari rumah.

Saya secara pribadi lebih mengagumi para guru yang mau bekerja di pelosok negeri ini tanpa punya pretensi untuk dikenal. Beberapa kali saya mendapatkan profil para guru yang bekerja di pedalaman penjuru negeri ini selama bertahun-tahun. Saya sebagai pribadi dan sebagai seorang guru merasa malu untuk mengatakan bahwa saya adalah guru yang hebat dan berprestasi. Karena apa? Karena ketika prestasi guru diterjemahkan dalam suatu penilaian, maka nilai kita sebagai agen perubahan itu akan gugur dengan sendirinya. Selayaknya, penilaian guru berprestasi dilihat dari ketulusan pengabdian yang dilakukan dalam keterbatasan dan dilakukannya penilaian benar-benar tanpa satu panggung ujian pengumpulan berkas-berkas pendukung yang tinggal gaung.

"Penghargaan itu tidak selalu berkaitan dengan uang dan publisitas"

Secara pribadi, saya mengenang ketokohan para guru saya di masa lalu. Saya begitu mengagumi Ibu Wati, guru saya di kelas 1 SDN Kesdam IV Diponegoro yang begitu enerjik mengajar kami dalam jumlah besar. Saya mengagumi beliau yang dengan detil melihat kekurangan dan kelebihan kami. Saya juga mengagumi bagaimana beliau mengespresikan kesedihannya ketika memang ada satu atau dua siswanya yang harus tinggal kelas. Penghargaan setinggi-tingginya saya berikan kepada semua guru saya seperti Ibu Sri, Ibu Camelia Sitanggang, Ibu Esti, Bapak Soewardi yang mengajar kami semua di saat pertumbuhan penduduk Indonesia sedang dikendalikan. Bagaimana mereka mengajar di kelas? Buat saya pribadi, dengan segala keterbatasan dukungan alat ajar dan waktu, mereka sungguh inspiratif!

Maka buat saya pribadi, ketika penghargaan guru teladan diberikan dalam bentuk perlombaan, sama sekali tidak mengena. Ada hal yang harus kita ingat bahwa penghargaan itu tidak selalu berkaitan dengan uang dan publisitas, melainkan lebih dari itu. Penghargaan itu berkaitan dengan ketokohan, ketulusan dan kesaksian mereka yang merasakan keteladanan mereka.

Mungkin kebutuhan untuk menjaring mereka yang berprestasi bisa dijadikan suatu tolok ukur untuk institusi. Namun begitu, apakah itu mewakili kebenaran?
Pada akhirnya, saya lebih melihat pada bagaimana kita membuka mata fisik dan batin kita untuk melihat prestasi sebagai suatu pengejawantahan agen perubahan buat masyarakat. Banyak prestasi yang tidak terukur oleh Penelitian Tindakan Kelas, keaktifan organisasi, sertifikat yang didapat ataupun keterkenalan. Buat saya, ketulusan melayani mereka yang berada jauh dari jangkauan, keteladanan dalam keterbatasan, kesetiaan dalam pengabdian, ketiganya lebih berarti.


salam,


Hugo

Sunday, June 3, 2012

SEKOLAH : EDUCERE DAN EDUCARE

Sekolah dalam konteks sebagai sebuah gerakan "educere" yang berarti membimbing kepada satu hal, bisa menjadi satu nilai plus. Sebaiknya disadari bahwa sekolah bukan hanya sebuah gerakan "educare" yang mengajarkan ilmu, melainkkan juga "educere" yang menyiapkan generasi untuk suatu gerakan perubahan.

Gerakan perubahan yang diharapkan bukan hanya dari generasi muda yang bersekolah melainkan juga generasi yang menyekolahkan. Sekolah sebagai satu institusi dan sebagai satu tempat, diharapkan bisa menjadi suatu magnet positif yang mengubah pandangan hidup antar generasi. Hal yang dimaksud adalah penerusan tongkat estafet kekuatan positif antar generasi dimana kekuatan negatif akan tergerus.

Apakah hal ini mungkin? sangat mungkin! Generasi yang lebih tua diharapkan menjadi penuntun generasi yang lebih muda. Sebagai penuntun, maka sudah sewajarnya, generasi yang lebih tua menunjukkan kerendahhatian dan juga kerjasama yang baik. Semakin solid satu komunitas generasi yang mempersiapkan generasi penerus di satu sekolah, maka semakin berkembang dengan baiklah visi dan misi yang dimiliki. Namun, apabila generasi yang lebih tua memandang sekolah dalam tolok ukur materi dimana karena telah merasa "membayar" biaya sekolah, maka semuanya diserahkan kepada sekolah, buyarlah gerakan "educere" tersebut. Generasi yang dipersiapkan pun akan terimbas.

Hal yang sering terjadi sekarang adalah tidak disadarinya gerakan "educere" tersebut. Banyak pihak saling tuduh atas kegagalan dunia pendidikan. Satu hal yang tidak perlu dibesar-besarkan karena selayaknyalah generasi yang lebih tua seperti saya dan anda, bisa menelaah dengan kepala dingin. Sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu, melainkan juga mewariskan persiapan-persiapan karakter. Sekolah bukan bagian dari tempat saling menyalahkan atas apa yang disebut "salah asuh". Mengapa demikian? karena sekolah sebagai sebuah institusi punya cita-cita mulia. Individu di dalam sekolahlah yang perlu dicermati sebagai "virus". Individu di dalam sekolah bisa jadi adalah pendidik, siswa dan orangtua.

Mari, kita lebih dalam melihat sekolah yang selama ini hanya kita anggap sebagai "educare" menuju "educere". Kita sebagai generasi yang mempersiapkan diharapkan untuk mentransfer positivisme dalam kehidupan generasi baru. Darimana kita akan memulainya? dari diri kita sendiri dan dari keluarga yang kita cintai.

salam,


H


Monday, July 18, 2011

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

"Satuan pendidikan bertaraf internasional merupakan
satuan pendidikan yang telah memenuhi Standar
Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar
pendidikan negara maju."

(Peraturan Pemerintah No.17 Th. 2010 Bab VIII SATUAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL Pasal 143)


Pada beberapa waktu yang lalu, di beberapa media massa dimuat kabar mengenai adanya perbedaan pendapat mengenai jalannya satuan pendidikan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Pada dasarnya, apa yang diperdebatkan?
Untuk melihat lebih jernih, kira-kira ada beberapa poin yang diperdebatkan. Beberapa poin sebagai berikut:

1. Tidak mengakarkan suatu kurikulum yang jelas. Saya merasa tidak perlu kita mencari kambing hitam untuk membenarkan satu atau dua pihak. Kurikulum yang jelas ada saat ini adalah kurikulum nasional yang diberi label Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Menurut hemat saya, perjelas dulu aplikasi dari KTSP ini di setiap satuan pendidikan. Selain itu, perbekali juga para ujung tombak penjaga kebijakan pemerintahan, yaitu para pengawas sekolah untuk mendapatkan satu kata tentang isi dan pengejawantahannya dalam setiap satuan pendidikan. Kurikulum yang digunakan di banyak negara maju, sebenarnya secara isi tidak jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada kurikulum yang buruk, yang ada adalah tidak maksimalnya kurikulum itu digunakan. Mari instropeksi diri kita, apakah KTSP dilakukan dengan benar atau kita hanya kejar materi pengajaran? Kurikulum kita hendak kita bawakan secara "content based" atau "inquiry based?"

2. Bahasa. Sekolah internasional dalam banyak benak orang Indonesia, adalah sekolah yang menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar. Bisa jadi benar tapi bisa jadi salah juga. Contoh nyata apabila hal itu dianggap benar adalah menjadikan bahasa ibu dianggap bahasa kelas dua. Semakin salah kaprah. Padahal yang benar, menurut hemat saya sekali lagi, adalah bahasa ibu tetap menjadi bahasa yang wajib dipelajari seimbang dengan bahasa asing lainnya. Bahasa ibu dipelajari dikelas dan digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Hanya saja, bahasa asing yang digunakan di sekolah juga diharapkan untuk menjadi bahasa pergaulan sehari-hari juga dengan catatan tanpa memaksakan hal tersebut kepada para perserta didik. Pada akhirnya, anak akan menjadi bilingual sejati dimana mereka berbahasa dengan baik dua bahasa yang dipelajari. Dua bahasa cukup. 

3. Peserta didik. Banyak anggapan bahwa peserta didik untuk RSBI adalah mereka yang berprestasi. Bagaimana dengan mereka yang tidak? sangat tidak adil apabila lingkungan (yang diharapkan) betul-betul internasional education dimana peserta didik mendapatkan pendidikan berwawasan internasional namun tidak melepaskan nuansa lokalnya, hanya untuk mereka yang dikategorikan "pintar" secara test dan nilai. Adilkah itu?

4. Dana Pendidikan. Karena salah kaprah sudah terlanjur terjadi, maka salah kaprah juga menjalar pada uang sekolah yang dikenakan. Semakin jauh dari harapan karena kualitas dan uang yang dikeluarkan tidak sepadan. Buah simalakama!

5. Pencapaian. Banyak pihak yang merasa pencapaian peserta didik dari RSBI tidak sesuai dengan labelnya. Namun sebenarnya, RSBI tidak perlu disalahkan juga karena akar dari pendiriannya juga belum kuat. Hal yang perlu diperbaiki adalah menata "rumah tangga" dahulu. 


Sejujurnya, banyak sekolah negeri maupun swasta yang berkeinginan untuk mendapatkan pengakuan secara langsung atau tidak langsung dengan kualitas pendidikan yang ditawarkan. Hanya saja, memang pemerintah perlu personil yang tegas dan luwes dalam melihat standar internasional sebagai suatu yang bukan "kulit luar" saja. Standar internasional bukan berarti para gurunya harus lulusan S-2 dan sering studi banding ke sekolah di luar negeri, melainkan bisa jadi guru lulusan S-1 dengan sertifikat pendidik dan terlebih penting mempunya hati untuk mendidik bukan melulu bekerja demi mengejar rupiah.

Selain itu, pemerintah juga perlu jujur melihat personil yang menjaga gawang klasifikasi sekolah seperti Sekolah Standar Nasional ataupun RSBI bahkan SBI. Ada banyak hal yang harus dikritisi namun juga perlu kebijaksanaan dalam melihat kesungguhan suatu satuan pendidikan dalam menmpersiapkan suatu standar internasional. 

Jujur, suatu perjalanan panjang untuk mencapai apa yang diinginkan. Namun saya percaya bahwa masih banyak satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang benar-benar ingin memajukan pendidikan di Indonesia ini. Mereka ingin memberikan pendidikan bertaraf internasional yang benar-benar mencakup internasionalisme dan kearifan lokal. Butuh kejelian mata baik mata hati maupun mata kepala kita semua.


salam,


Hugo

Friday, May 27, 2011

PENDIDIKAN, UNTUK SIAPA?

Judul  di atas bagi sebagian orang sudahlah jelas jawabannya.
Di kalimat ketiga dari artikel inipun, saya akan menjawabnya. Jawabannya adalah untuk anak-anak dan mereka yang selalu merasa butuh pendidikan.

Ketika anak-anak memulai jenjang pendidikan formal mereka, pembelajaran yang mereka terima benar-benar memberikan nuansa baru. Mereka mulai mengenal ada banyak hal yang mereka pelajari di rumah dan banyak hal baru yang mereka pelajari di sekolah. Mereka juga belajar tentang perbedaan pandangan yang bisa jadi mereka dapat dari rumah dan sekolah. Mereka belajar mendengar orang lain terlebih-lebih mendengar apa yang dikatakan guru - terkadang guru lebih didengar daripada orang tua mereka sendiri.

Begitu kuatnya pengaruh pendidikan yang diterima seorang anak dalam keluarga dan sekolahnya, hingga seringkali membekas dalam benaknya. Sayangnya, kita sebagai orang tua dan guru kurang menyadari bahwa kita adalah idola anak-anak kita. Karena ketidaksadaran tersebut, kita sering "menghancurkan" kekaguman mereka terhadap kita. Karena ketidaksadaran pulalah, kita sering juga menanggapi apa yang menjadi kebutuhan pendidikan anak kita terabaikan.

Pendidikan yang didapat anak-anak dari orang tua seperti kita akan membekas. Ketika kita tidak menerapkan aturan yang jelas dalam keluarga, maka anak-anak akan mengambil kesimpulan bahwa hidup itu lebih enak tanpa aturan. Sebaliknya, apabila hidup mereka banyak diatur mulai dari bangun pagi sampai tidur malam, maka mereka merasa aturan-aturan itu dibuat untuk membuat mereka yang mejalankannya sengsara. Serba salah? Tidak juga, asal kita mengerti apa yang harus kita lakukan dan posisi apa yang dirindukan oleh anak-anak kita.

Pendidikan untuk anak-anak pada masa sekarang sungguhlah sesuatu yang kita sendiri tidak bisa bayangkan pada masa kita mendapatka pendidikan untuk pertama kalinya. Begitu banyaknya campur tangan perkembangan teknologi terjadi dalam pendidikan anak di masa kini. Apa yang bisa kita lakukan? Hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah menanamkan budi pekerti yang baik melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu menyadari bahwa pendidikan yang kita berikan sekarang adalah untuk anak-anak kita, maka sewajarnyalah kita menyadari juga bahwa kesederhanaan berpikir menjadi tumpuan dari budi pekerti. Anak akan dengan mudah membandingkan cara bertindak kita terhadap pengemis - misalnya - dengan nasehat yang diberikan oleh guru di sekolah. Anak bisa sangat kritis menegur orang tuanya apabila mengendarai kendaraan melebihi kecepatan dari rambu-rambu yang terpasang di pinggir jalan. Anak juga bisa menngingatkan orang tuanya untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat mereka menjadi malu di depan teman-temannya - semisal mengantar mereka sampai ke depan gerbang sekolah dengan alasan mereka bisa berjalan sendiri beberapa meter sebelum gerbang sekolah.

Apapun yang kita berikan kepada anak-anak kita sebagai bagian dari pendidikan, akan membekas dalam kehidupan mereka di  masa depan. Apabila kita mendidik mereka untuk membeda-bedakan orang lain berdasarkan ukuran kekayaan, maka jangan heran apabila di kemudian hari, anak-anak kita tidak bisa menjadi survivor sejati ketika dibutuhkan. Jangan juga menyesal apabila sekarang kita secara tidak sadar mengajari mereka gaya hidup yang tidak sehat seperti membiarkan mereka melihat kebiasaan minum minuman beralkohol atau merokok. Mereka akan melakukan yang lebih parah dari apa yang orang tua lakukan. Maka tidak heran apabila kita mendengar ada beberapa pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri karena orang tuanya kaya, melakukan tindakan-tindakan konyol demi mencari "jati diri". Mengapa mereka berbuat begitu? karena orang tua mereka begitu permissive terhadap segala tindakan mereka. Menegur anaknya sendiri tidak berani, takut akan menyakiti hati mereka. Pemikiran dan tindakan yang keliru.

Kembali kepada judul artikel ini, marilah kita renungkan. Pendidikan itu untuk siapa? Jangan sampai kita melihat anak-anak kita di masa depan menjadi beban masyarakat. Selagi kita mampu, lakukan banyak hal yang membentuk karakter mereka menjadi manusia yang penuh kasih, kreatif , dan juga peka terhadap lingkungan sekaligus bertutur kata halus dan berpikir jernih.


salam,



Hugo

Sunday, March 27, 2011

MENCIPTAKAN SEKOLAH BERKARAKTER

Merujuk pada tulisan saya sebelumnya tentang "Sekolah Berkarakter", maka kali ini adalah satu jenjang lanjutan yang lebih terperinci.
Sebuah sekolah yang berkarakter adalah sebuah sekolah yang setiap komponennya setuju dengan karakter yang terbentuk dan juga berbesar hati untuk mengadakan perubahan demi dan hanya untuk pendidikan.

Pada dasarnya, untuk menciptakan sebuah sekolah berkarakter membutuhkan keyakinan, waktu dan ketulusan. Untuk memudahkan kita semua membaca tulisan ini, saya akan membaginya berdasarkan ketiga pilar utama yang tersebut di atas.

1. KEYAKINAN

Memiliki sebuah keyakinan adalah pilar mendasar. Keyakinan yang dimaksud bukanlah agama. Keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan pada apa yang sekolah ingin capai. Beberapa hal yang bisa dilihat dalam pilar keyakinan ini adalah kurikulum dan tenaga pendidik. Sebuah sekolah, baik itu dikelola oleh pemerintah maupun swasta, harus mempunyai keyakinan pada kurikulum dan tenaga pendidik yang mereka kelola. Memang dalam hal ini banyak hal yang harus dilihat lebih mendalam seperti kurikulum nasional yang sekarang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) harus dimaksimalkan pengelolaannya. Terus terang, kurikulum bukanlah suatu hal yang hanya membuat sekolah berorientasi pada target menyelesaikan buku paket melainkan pada kompetensi anak didik.

Kendala yang dihadapi oleh kurikulum nasional kita adalah desain output dari tiap jenjang satuan pendidikan. Apa yang disebut dengan output selalu berkaitan dengan quality control. Quality control selalu berkaitan dengan serangkaian tolok ukur yang harus dilewati para peserta didik untuk dikatakan menyelesaikan jenjang satuan pendidikan. Pada beberapa waktu yang lalu, passing grade untuk UN masih menjadi "momok". Tampaknya hal itu mulai dikurangi dengan adanya penghargaan pada pencapaian peserta didik yang tercatat pada laporan hasil belajar. Waktu mengubah semua itu!

Sebuah sekolah atau satuan pendidikan, haruslah mengakomodir kurikulum nasional dalam pengajaran yang 'istimewa'. Antar satuan pendidikan melakukan pengajaran yang berbeda sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Tenaga pendidik juga haruslah yakin pada kompetensi mereka. Sangat disayangkan apabila tenaga pendidik memilih karir sebagai seorang pendidik hanyalah semata-mata karena mereka tidak mendapatkan karir yang lain. Keyakinan untuk menjadi pendidik adalah suatu keyakinan yang menjadi suatu kebanggaan karena turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Tenaga pendidik juga harus memiliki keyakinan bahwa mereka harus terus berkembang karena ilmu yang ditularkan juga berkembang. Sangat disayangkan apabila seorang pendidik di abad 21 ini masih canggung dengan teknologi masa kini.

2. WAKTU

Mencapai suatu standar yang diidam-idamkan butuh waktu. Ketika kita semua sadar bahwa kita butuh waktu, maka semua komponen dalam sekolah juga harus mendukungnya. Pada umumnya, ketika semua komponen dalam satu sekolah belum sepakat pada yang namanya waktu, mereka akan cenderung saling membandingkan.

Waktu dibutuhkan setiap komponen sekolah. Seorang tenaga pendidik membutuhkan waktu untuk melihat, merencanakan dan mengevaluasi langkah-langkah pembelajarannya. Seorang siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dirinya pada situasi pembelajaran dan lingkungan sekitarnya. Orang tua siswa juga membutuhkan waktu untuk menelaah sikap sekolah dalam rangka pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Semuanya butuh waktu untuk mengerti.

Mengenal waktu berarti menghargai waktu. Menghargai waktu berarti memaklumkan proses. Memaklumkan proses berarti mengerti perbedaan waktu antar siswa yang merupakan individu unik. Kedewasaan intelegensi setiap siswa berbeda-beda. Orang dewasa terkadang lupa bahwa mereka pun pernah mengalaminya. Sering karena tidak memahami proses, siswa menjadi kambing hitam. Ketika di masa depan, siswa tadi menjadi "orang" maka berebutanlah semua orang dewasa mengklaim andilnya.

Mengenal waktu berarti juga mengenal target. Mengenal target berarti mempunyai tujuan pencapaian yang jelas. Mempunyai tujuan yang jelas berarti sebuah kesepakatan akan satu yang terbaik bagi semua.

Masih meragukan waktu?

3. KETULUSAN

Pilar terakhir adalah ketulusan. Ini adalah pilar yang paling sulit. Ketulusan teramat sulit untuk mempunyai sebuah tolok ukur. Namun demikian, bukanlah hal yang mustahil bukan?

Setiap satuan pendidikan harus mempunyai ketulusan terhadap peserta didik. Setiap peserta didik harus mempunyai ketulusan dalam menghidupi pengetahuan yang didapat. Setiap tenaga pendidik harus tulus membimbing peserta didik karena apabila ketulusan terlunturkan oleh banyak pamrih, maka pembelajaran akan menjadi satu rutinitas belaka yang menjemukan.

Ketulusan juga harus diciptakan satuan pendidikan terhadap masyarakat sekitar. Hal ini akan terlihat dengan kerjasama yang signifikan dan berkesinambungan. Apabila peserta didik diarahkan menghidupi pengetahuan yang didapat, maka sangat tidak mustahil apabila ada aksi tulus dari peserta didik terhadap masyarakat sekitar sebagai "buah" pengetahuan.

Para orang tua juga sangat diharapkan ketulusannya dalam membantu proses belajar mengajar. Sering kita temui bahwa satuan pendidikan dianggap sebagai sebuah "pabrik" dimana para orang tua hanya "menitipkan" anak-anak mereka untuk nantinya secara ajaib menjadi "barang jadi". Jangan kita nanti hanya menyesal tanpa tahu harus berbuat apa.


Ketiga pilar tadi tentu saja tidak hanya bagus untuk satuan pendidikan dan komponennya, melainkan bagus untuk sistem pendidikan di negara kita. Tentu saja, proses pemikiran seperti ini masihlah harus ditelaah dan diterjemahkan dalam langkah yang lebih konkrit. Namun saya percaya bahwa kita semua bisa dan generasi yang akan menggantikan generasi sekarang, akan segera berpikir dengan cepat untuk mengadakan perubahan menyeluruh.
Semoga!

salam,


Hugo

Monday, March 7, 2011

HOW THE INQUIRERS SHAPED - PARENTS GUIDE

An inquirer is the one who inquires for something. It is really that simple.
The students nowadays need to be inquirer on the knowledge they seek. The teachers as well need to be inquirers as the rapid growth of the knowledge. The parents moreover, need to be the first inquirers at home as the kids will ask them many questions in day to day basis.

The International Baccalaureate Organization where the Primary Years Programme came from, really wants to have all students to be the inquirers. In the IB-PYP handbook: A Basis for Practice (p.4), it is written that 
"Inquiry, interpreted in the broadest sense, is the process initiated by the student 
or the teacher that moves the student from his or her current level 
of understanding to a new and deeper level of understanding"

Obviously, the process in becoming the inquirer begins from the students and the teachers. However, the process actually begins from the family environment. Some people said,"It begins from the moms and dads". To be honest, I really agree that as parents, we hold the most important parts.

When the children ask "what's that daddy?", "Why does the flower have green leaves mom?", and many more questions involving WH questions, we need to answer the questions properly. The children will not be able to be a full inquirer when they hear the answer "well, the leaves have its color because God makes them so" or "you have asked too many questions today, so please be quiet". To connect the answer with God is good but surely God makes everything with logical reason that we also as adults can provide logical answers for our children. Avoiding questions will not make the happy and to be honest will not make us good parents as well.

Any IB schools dream - and yet been proven - to bear more inquirers. As parents, we dream to have our kids hold any language from different nations, master any knowledge they want to pursue, and be person for others. All of that dreams can happen. It all begins from us. Let's be inquirer from now on.


blessing,


Hugo

Wednesday, November 10, 2010

LANGUAGE EXPECTATION

The internationalism has been a trend currently. People want to be still considered local while they also want to be part of international world. One way among many ways in embracing internationalism is to have fluency in some "world languages". 

The languages that people have desire to master are English, France, Latin and Chinese. Besides those four languages, people will automatically master their own mother tongue. In some countries, people can have two mother tongues. Thus, if they learn two other world languages, then these people would be mastering four languages during their lives. 

To be able to use some languages with good standard of fluency must be a great achievement. Some people find it easy as they are language naturalists; some find it hard. 
The rapid changes of world's global economy encourages people to put language as an asset. There are any language courses are established to meet the need of language learners. There are many adults and kids register and learn within language courses. 

Some schools that also want to embrace the internationalism apply certain language policy that they believe will enhance the language skill of their students. However, some schools have made themselves as "risk-taker" by applying "three-languages policy". The expectation is that students at the end of schooling will be able to use three languages in their lives. 

The big question now is whether the students will master the three languages fluently or they will have one language mastered while other languages are just a failure?

Learning a language, I believe must be started with strengthening the mother tongue of a student. Once the mother tongue is established both in school and home, then the students will be able to master another language easily. Another support is that if a family wants the kids want to master two languages, then the family must also exposed every member of family with the correct use of the two languages. What about three languages? I really think that three languages is way too much.

Now, it goes back to school and family policy then.

Sunday, October 31, 2010

SEKOLAH BERKARAKTER

Tulisan saya sebelumnya yaitu "Membangun Sekolah Berkarakter" belum banyak berbicara mengenai aksi nyata.
Pada tulisan kali ini, saya akan bicara tentang apa itu sekolah berkarakter.

Untuk tidak membuat kesalahpahaman, saya akan dengan jujur menyatakan bahwa semua sekolah mempunyai karakter. Tidak ada sekolah dibentuk tanpa karakter jelas. Karakter sekolah akan menjadi lebih jelas apabila komponen sekolah mengolahnya dengan benar dan terus menjadikan karakter yang hendak dibentuk itu sebagai suatu "nafas" yang benar-benar dihembuskan ke setiap anggota sekolah.

Sekolah berkarakter akan saya bagi menjadi 3. Pertama adalah sekolah berkarakter berdasarkan kultur yang dianut. Kedua adalah sekolah berkarakter berdasarkan kesepakatan anggota sekolah. Ketiga adalah sekolah berkarakter berdasarkan evaluasi.

1. Sekolah berkarakter berdasarkan kultur. Sekolah semacam ini, pada umumnya mempunyai keterkaitan dengan religi, adat-istiadat atau kurikulum tertentu. Banyak sekolah yang berpandangan bahwa nuansa religi yang dibawakan dalam pengajaran di kelas akan membentuk karakter sekolah (termasuk para pembelajarnya) dengan corak tertentu. Semuanya adalah benar belaka; banyak sekolah dengan latar belakang religi yang membuktikan kebenaran ini terlihat dari alumni-alumni sekolah semacam ini. Sekolah dengan kurikulum tertentu juga mengalami hal yang sama. Kurikulum yang dianut oleh sekolah, baik itu kurikulum nasional maupun kurikulum manapun, akan membentuk karakter sekolah. Hanya saja, untuk sekolah yang mencoba membentuk karakter melalui kurikulum, perlu disadari bahwa kurikulum yang dianut haruslah dilakukan dengan semaksimal mungkin. Hal ini dimaksudkan agar karakter tersebut bukan hanya sekedar "tempelan" belaka.
Hanya saja, patut ditengarai bahwa para pembelajar perlu juga diberi wawasan pengenalan akan sekolah dengan karakter yang lain.

2. Sekolah berkarakter berdasarkan kesepakatan anggota sekolah. Untuk sekolah yang memutuskan untuk duduk bersama dan memutuskan karakter seperti apa yang sekolah akan bawakan, tentunya karakter yang akan dibawa adalah yang terbaik. Beberapa sekolah - tentu saja bersama yayasan yang menaungi - telah melakukan hal ini. Namun jujur saja, manajemen sekolah dan yayasan yang lebih banyak memberikan dasar. Sekolah-sekolah yang memutuskan karakter bersama ini lebih cenderung menjadikan sebuah sekolah "eksklusif" dengan tujuan yang baik. Sering sekali sekolah semacam ini melibatkan para pembelajar dalam lingkungan model pamong alias pembimbing. Sekolah-sekolah yang menerapkan kehidupan siswa di sebuah asrama sekolah dapat dikategorikan  sebagai sekolah dengan karakter berdasarkan kesepakatan anggota sekolah (selama religi dan kurikulum bukanlah menjadi yang utama).

3. Sekolah berkarakter berdasarkan evaluasi. Sekolah semacam ini lebih melihat karakter mereka sebagai suatu karakter yang berkembang. Mengapa demikian? ada jangka waktu terterntu yang disepakati yayasan dan sekolah untuk mengevaluasi dan menganalisa karakter yang telah dikembangkan selama beberapa tahun penerapan. Pada umumnya, komponen sekolah yang akan sedikit "bingung" adalah orangtua. Mengapa? karena apabila perubahan yang diambil berdasarkan evaluasi adalah sangat mendasar, maka orangtua akan bereaksi lebih pada khawatir. Pada kenyataannya, sekolah telah memperhitungkannya dengan sangat berhati-hati. Sekolah semacam ini dapat ditemui pada masa sekarang ini dimana banyak sekolah mencoba menjadi bagian dari industri pendidikan. Sekolah semacam ini akan berusaha mencoba melihat mana yang "terbaik" menurut pandangan masyarakat dalam konteks pasar mereka. Maka jangan heran apabila banyak bermunculan jargon-jargon menarik untuk menjaring lebih banyak pembelajar masuk sekolah semacam ini.

Sekali lagi, semua sekolah di atas adalah baik. Semuanya tergantung dari kita sendiri untuk menyikapinya.

salam,


Hugo

Saturday, October 30, 2010

SEKOLAH IMPIANKU

Teman-teman yang baik, yang telah dengan setia membaca blog ini.
Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk merefleksikan 12 tahun karir saya dalam dunia pendidikan. Dalam refleksi saya itu, tiba-tiba saya menuliskan sebuah deretan kata yang berbunyi "sekolah ideal bagi saya". Jelas-jelas, dalam refleksi itu, saya memimpikan sebuah sekolah 'ala' diri saya ini.
Langsung saja dengan impian saya itu, ya!

1. Sekolah yang merupakan sekolah non-denominasi alias sekolah yang menerima semua siswa dengan latar belakang reliji, warna kulit dan banyak perbedaan lain secara terbuka.

2. Sekolah yang mempergunakan kurikulum nasional (Indonesia) seutuhnya dengan  penyampaian yang tidak berbasis pada pemahaman isi terlebih dahulu, melainkan pemahaman konsep.

3. Sekolah yang mengedepankan kerjasama dengan komunitas sekitar dalam radius 3-5 km dari sekolah.

4. Sekolah yang memberikan muatan teknologi secara tepat waktu dan tepat pada waktunya

5. Sekolah yang menerima guru berdasarkan kemampuan mengajar yang baik, panggilan hidup sebagai guru dan karakter guru yang adalah "people's person" alias guru yang memihak pada kepentingan bersama.

6. Sekolah yang memberikan penghargaan kepada guru dengan baik secara finansial dan penghargaan dalam bentuk apapun termasuk training pengembangan diri dan keilmuan.

7. Sekolah yang menempatkan orangtua sebagai teman dalam mengembangkan kemampuan siswa menurut bakat dan minat siswa, bukan bakat dan minat orangtua.

8. Sekolah yang memberikan kegiatan ekstra-kurikuler dinamis dimana siswa harus memilih yang memberikan keseimbangan antara kemampuan fisik dan pikiran.

9. Sekolah dengan gedung yang biasa namun bersih dan menghasilkan yang luar biasa.

10. Sekolah yang mempromosikan internasionalisme dalam kesetaraan dimana warna kulit bukan menjadi jaminan pengajaran yang baik dan benar.

11. Sekolah yang membatasi pengajaran bahasa di dalam kurikulumnya: Bahasa Ibu dan bahasa asing 'lingua franca' yang telah dipergunakan di seluruh dunia.

12. Sekolah yang pengajaran di dalamnya tidak terkekang oleh tembok kelas terus menerus.

Itulah tadi kriteria sekolah impian saya. Bagaimana dengan anda?

salam.


Hugo

Saturday, October 23, 2010

PANDUAN MEMILIH SEKOLAH BAGI ORANG TUA

Di jaman sekarang ini, banyak orang tua yang berpikir bahwa pendidikan adalah "investasi" masa depan buat anak-anak mereka. Tidak salah juga pemikiran itu. 
Di banyak kota besar, orang tua berusaha mendapatkan sekolah yang "terbaik" buat anak-anak mereka. Beberapa waktu yang lalu, secara iseng saya bertanya pada beberapa orang tua yang saya temui. Pertanyaan pertama adalah: Sekolah seperti apa yang diinginkan oleh para orang tua? jawabannya bervariasi seperti: 1) sekolah yang disiplin  2) sekolah yang berbahasa asing  3) sekolah yang banyak prestasinya  4) sekolah yang guru-gurunya "care" terhadap siswa-siswinya  5) sekolah yang maju "teknologinya"  6) sekolah dengan "program" terbaik.

Dalam hati saya berpikir "hebat sekali para orang tua ini. Belum menyekolahkan anaknya saja, mereka sudah memiliki rencana yang matang untuk membuat anak mereka "jago" di masa depan.
Salah seorang dari beberapa orang tua tersebut mengungkapkan keinginannya bahwa sejak dini ia ingin anaknya belajar di sekolah yang mengedepankan semangat "global". "Bahasa sangat penting dipelajari sejak dini. Makanya, saya mencari sekolah yang menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, Bahasa Indonesia tetap diajarkan, plus ada Bahasa Mandarin sebagai bahasa global kedua setelah Bahasa Inggris di masa depan". Wah, hebat sekali!

Sayang sekali, orang tua semacam ini tidak melihat dirinya sendiri dan melihat anaknya. Apa yan kita harapkan dari anak kita? mampu segalanya tanpa melihat bahwa itu adalah beban bagi mereka karena ekspetasi kita? Masuk ke sebuah sekolah dengan penerapan dua bahasa saja sudah lebih dari cukup buat anak-anak kita. Bahasa ketiga di satu sekolah? pastilah hanya untuk memuaskan pasar dan jelas tidak akan pernah memuaskan anak secara batiniah.

Sekolah yang disiplin. Menurut hemat saya, semua sekolah mempunyai tingkat kedisiplinan masing-masing sesuai kultur sekolah tersebut. Apabila anak dianggap nakal oleh orang tua dan dari kacamata orang tua, sekolah tidak bisa mendisiplinkan anak mereka, berarti kegagalan pertama ada pada orang tua. Sekolah adalah kegagalan pelengkap dari kegagalan orang tua mendidik anak pola disiplin sejak dini dan sekolah juga menjadi "kambing hitam" dari kegagalan orang tua. 

Sekolah yang banyak prestasinya. Prestasi akademik? prestasi non-akademik. Apabila sekolah itu hanya mementingkan prestasi akademik, jelaslah itu bukan sekolah yang baik. Sekolah seperti itu mematikan jiwa kreativitas seorang anak. Sekolah seperti itu hanya mau menerima mereka yang pada dasarnya memang "pintar". Sekolah ini adalah tipe sekolah "pilih kasih". Namun, apabila sekolah itu hanya mementingkan prestasi non-akademik, perlu dipertimbangkan juga mengapa sekolah itu tidak menjadi sekolah kejuruan saja.

Sekolah yang guru-gurunya "care" terhadap semua siswa-siswinya. Apakah anak-anak kita begitu hausnya untuk mendapatkan perhatian dari semua guru?  Menurut hemat saya, seorang guru memperhatikan siswa-siswinya adalah suatu hal yang wajar. Jadi, pada dasarnya kalau orang tua mendapatkan guru tidak "care" terhadap anak-anak, bisa jadi guru itu memang tidak mempunyai jiwa guru, atau orang tua yang terlalu "meminta".

Sekolah yang maju teknologinya. Apabila anda adalah orang tua yang memang selalu up to date dengan perkembangan teknologi dan anak-anak anda juga menyukainya, sekolah semacam ini cocok buat anda. Namun begitu, lihat juga apakah sekolah yang mempromosikan diri sebagai sekolah berteknologi tersebut memang benar-benar serius, atau sekedar slogan dagang saja. Orang tua harus benar-benar sadar diri dan menyesuaikan lahir batin dengan sekolah yang benar-benar berbasis teknologi.

Sekolah dengan program yang baik. Sering saya dibenturkan pada pertanyaan dari orang tua "menurut bapak, program A dan program B, mana yang lebih baik?" Jawaban saya adalah, " terserah bapak. Bapak mau yang mana itu kan uang anda. Menurut hemat saya, bapak harus benar-benar mengenali karakter putra-putri bapak dan sesuaikan dengan program tersebut, sesuai atau tidak. Selanjutnya, biar anak mencoba dulu, jadi bapak tahu apakah prediksi bapak benar atau tidak". Jawaban saya ini sering membuat orang tua jengah. Mereka mungkin berharap saya akan menjelekkan program yang sekolah saya tidak gunaka. Maaf, saya bukan orang yang berjualan program. 

Perlu tidak sih anak saya diperiksa psikolog. Perlu, kalau anda sebagai orang tua memang melihat ketidakwajaran dalam tingkah laku anak. Apabila tidak ada yang perlu dikhawatirkan - anda harus jujur - maka psikolog hanya akan menambah beban pembiayaan anda saja. 

Selamat merenung dan menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak dan masa depan mereka!

salam,


Hugo

Friday, July 23, 2010

BAHASA INDONESIA VS REMAJA INDONESIA

Setiap mengajar Bahasa Indonesia, saya selalu teringat kepada Ibu Camelia Sitanggang. Beliau adalah guru saya ketika di bangku SD kelas 3. Ingatan saya selalu melayang saat beliau mengajar kita membaca dengan benar. "Membaca itu seperti bernyanyi" terang beliau. Setiap titik dan koma yang kami baca, haruslah mendapatkan penekanan yang tepat. Setiap kosa kata, struktur bahasa dilihat dengan teliti. Hasilnya, semua anak memang berbahasa Indonesia dengan baik. Semua itu tak lepas juga dari dukungan orangtua yang juga mencoba berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya mulai mengajar, terasa perbedaan yang sangat mencolok. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh anak-anak abad 21 ini mulai meluruh. Dialek kedaerahan yang terlalu kuat, pengaruh teknologi pesan singkat /SMS (Short Message Service), bahasa-bahasa percakapan elektronik, bahasa pergaulan dan dialog-dialog sinema begitu kuat mempengaruhi anak-anak dan remaja Indonesia dalam berbahasa Indonesia. Sering saya mendengar anak-anak mengucapkan, "secara", "makana", tanpa tahu makna dan penempatan pun mengganti "nya" menjadi "na". 

Beberapa penulis lagu juga turut andil mengacaukan Bahasa Indonesia. Penulisan lirik lagu yang menyingkat kata-kata demi tepatnya not-not dilagukan menjadi sebab musababnya. Mungkin kita semua sering mendengar kata "beri" disingkat menjadi "bri", "pelita" menjadi "p'lita", "selalu" menjadi "slalu" dan banyak lagi. Mungkin saat ini belum begitu terasa, namun dampaknya akan terlihat dengan pasti kurang dari 10 tahun ke depan. 

Kacaunya, banyak orangtua di abad 21 ini berlagak pilon, bahkan lebih parah lagi berlagak sok tahu. Orangtua seperti ini lebih suka anaknya belajar bahasa asing. Alhasil, mereka membiarkan saja skil Bahasa Indonesia anak-anak mereka menurun bahkan menyalahkan sekolah. Lebih penting berkomunikasi dengan anak menggunakan Bahasa Inggris atau Mandarin karena banyak yang percaya bahwa semakin dini usia anak mempelajari kedua bahasa tersebut, semakin baik. Padahal, ketika anak mereka beranjak dewasa, anak-anak ini akan menjadi penutur-penutur bahasa yang tanggung karena semua bahasa yang mereka pelajari tidak ada yang matang. Atau, kalaupun mereka bisa memiliki kematangan dalam skil kebahasaan, hanya satu bahasa yang kuat. Parahnya adalah ketika Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka, tidak sebagus bahasa asing yang mereka kuasai. Salah siapa?

Saya berharap, kita semua berkaca pada diri kita masing-masing. Akankah kita membiarkan anak-anak kita di masa depan mempekerjakan orang lain hanya untuk menterjemahkan bahasa ibu mereka? Keputusan ada di tangan kita masing-masing.

salam,

Hugo




Monday, April 12, 2010

MENGAJAR ITU ANUGERAH DAN PANGGILAN JIWA

Beberapa guru yang saya temui telah mengajar bertahun-tahun. Mereka sangat bangga dengan tahun-tahun mengajar mereka. Kebanggaan itu semakin terungkap manakala ada beberapa mantan muridnya yang menjadi "orang". Beberapa dari mereka dengan bangga menyebut bahwa si A yang menadi walikota kota anu adalah mantan muridnya di kelas 3 SMP, atau si B yang menjadi penyanyi terkenal itu dulu murid dia di kelas 3 SD. "Wah, padahal dulu itu suaranya fales banget!" celetuknya.

Saya sangat kagum dengan mereka yang bisa bertahan bertahun-tahun menjadi pengajar. Banyak dari mereka yang secara ekonomi terseok-seok manakala gaji yang mereka terima dari jaman dahulu sampai sekarang hanya sampai pada level "pas" atau bahkan "kurang" dan menjadi banyak "hutang". Ada juga yang sukses karena mempunyai usaha lain atau mengolah kemampuan mengajarnya dengan mengajar les privat atau menulis buku. Semuanya bertahan dengan kemampuan dan daya kreasinya masing-masing. 

Mengajar itu anugerah dan panggilan jiwa, hal itu dikatakan oleh ibu saya yang dulu adalah seorang guru juga. Mengapa anugerah? lihat saja mereka yang mengajar bertahun-tahun dan tetap setia. Bagi mereka, kemampuan mengajar itu suatu anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya. Banyak orang mengatakan bahwa mengajar butuh kesabaran bahkan terkadang keiklhasan untuk merogoh kocek pribadi. 

Mengajar itu panggilan jiwa. Benar juga! Seorang dokter yang sukses dengan karirnya, merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia senang berbicara dengan pasiennya, menerangkan banyak hal tentang penyakit yang diderita oleh pasiennya dan meyakinkan mereka bahwa semua dapat dilewati dengan baik. Suatu ketika, ada tawaran untuk mengajar mahasiswa kedokteran dari seorang teman dokter yang hendak cuti mengajar. Saat sang dokter ada di depan kelas, ia merasa suatu hal yang berbeda terjadi pada dirinya. Mengajar adalah panggilan jiwanya. Alhasil, selain praktek sebagai dokter handal, dia juga dikenal sebagai pengajar yang mumpuni. Mahasiswa-mahasiswinya sangat kehilangan sosoknya ketika jenazahnya dikebumikan.

Ada satu pertanyaan menggelitik, apakah cukup menyadari bahwa mengajar itu anugerah dan panggilan jiwa? Saya rasa tidak. Seekor burung tidak dilihat dari berapa tahun ia terbang, tapi bagaimana ia terbang. Seorang guru tidak hanya dilihat dari berapa lama ia mengajar, tetapi bagaimana ia mengajar. Percuma mengajar bertahun-tahun lamanya apabila cara mengajarnya hanya dari itu ke itu saja. Semangat dalam penhajaran hanya menjadi rutinitas. Harus diingat bahwa  menularkan ilmu adalah sebuah seni yang hanya bisa dikatakan dan kemudian dikerjakan dengan hati lalu seni itu baru bisa dirasakan oleh orang lain. Mengajar adalah sebuah hubungan batin antara guru dan muridnya. Seorang guru bisa saja menjadi guru "killer" namun dirindukan pengajarannya oleh murid-muridnya. Seorang guru harus bisa membuat suasana "mulur" (rileks) dan "mungkret" (disiplin). Seorang guru harus bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya.

Bagaimana dengan kita para pengajar?

salam,

Hugo

PS: Terima kasih buat para guru SD-ku di SDN Kesdam IV Diponegoro dan SDN Siliwangi II Semarang. Kalian telah menjadi inspirasiku!