Monday, September 10, 2012

GURU BERPRESTASI

"Ketika prestasi guru diterjemahkan dalam suatu penilaian 
maka peran agen perubahan itu gugur"

Beberapa kali saya membaca berita tentang guru berprestasi. Dalam benak saya, terlintas kekaguman setelah selesai membaca berita-berita tersebut. Kekuatan berita itu sungguh membuat saya terkesiap dan berkata pada diri saya sendiri,"Benar-benar hebat mereka ini."
Namun begitu, setelah mengalami pengendapan beberapa saat, saya mulai tergelitik oleh beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah, apakah mereka yang tidak 'terjaring' dalam kategori berprestasi itu tidak berprestasi? Semoga saja tidak.

Salah satu peran guru dalam masyarakat adalah sebagai agen perubahan. Dengan pengajaran yang diberikan, para guru bisa memberikan visi menjadi misi pada anak-anak didik mereka. Sebuah tatanan masyarakat akan sangat timpang tanpa kehadiran guru yang memberikan pengajaran ilmu hidup, melengkapi apa yang generasi muda dapatkan dari rumah.

Saya secara pribadi lebih mengagumi para guru yang mau bekerja di pelosok negeri ini tanpa punya pretensi untuk dikenal. Beberapa kali saya mendapatkan profil para guru yang bekerja di pedalaman penjuru negeri ini selama bertahun-tahun. Saya sebagai pribadi dan sebagai seorang guru merasa malu untuk mengatakan bahwa saya adalah guru yang hebat dan berprestasi. Karena apa? Karena ketika prestasi guru diterjemahkan dalam suatu penilaian, maka nilai kita sebagai agen perubahan itu akan gugur dengan sendirinya. Selayaknya, penilaian guru berprestasi dilihat dari ketulusan pengabdian yang dilakukan dalam keterbatasan dan dilakukannya penilaian benar-benar tanpa satu panggung ujian pengumpulan berkas-berkas pendukung yang tinggal gaung.

"Penghargaan itu tidak selalu berkaitan dengan uang dan publisitas"

Secara pribadi, saya mengenang ketokohan para guru saya di masa lalu. Saya begitu mengagumi Ibu Wati, guru saya di kelas 1 SDN Kesdam IV Diponegoro yang begitu enerjik mengajar kami dalam jumlah besar. Saya mengagumi beliau yang dengan detil melihat kekurangan dan kelebihan kami. Saya juga mengagumi bagaimana beliau mengespresikan kesedihannya ketika memang ada satu atau dua siswanya yang harus tinggal kelas. Penghargaan setinggi-tingginya saya berikan kepada semua guru saya seperti Ibu Sri, Ibu Camelia Sitanggang, Ibu Esti, Bapak Soewardi yang mengajar kami semua di saat pertumbuhan penduduk Indonesia sedang dikendalikan. Bagaimana mereka mengajar di kelas? Buat saya pribadi, dengan segala keterbatasan dukungan alat ajar dan waktu, mereka sungguh inspiratif!

Maka buat saya pribadi, ketika penghargaan guru teladan diberikan dalam bentuk perlombaan, sama sekali tidak mengena. Ada hal yang harus kita ingat bahwa penghargaan itu tidak selalu berkaitan dengan uang dan publisitas, melainkan lebih dari itu. Penghargaan itu berkaitan dengan ketokohan, ketulusan dan kesaksian mereka yang merasakan keteladanan mereka.

Mungkin kebutuhan untuk menjaring mereka yang berprestasi bisa dijadikan suatu tolok ukur untuk institusi. Namun begitu, apakah itu mewakili kebenaran?
Pada akhirnya, saya lebih melihat pada bagaimana kita membuka mata fisik dan batin kita untuk melihat prestasi sebagai suatu pengejawantahan agen perubahan buat masyarakat. Banyak prestasi yang tidak terukur oleh Penelitian Tindakan Kelas, keaktifan organisasi, sertifikat yang didapat ataupun keterkenalan. Buat saya, ketulusan melayani mereka yang berada jauh dari jangkauan, keteladanan dalam keterbatasan, kesetiaan dalam pengabdian, ketiganya lebih berarti.


salam,


Hugo

PYP WORKSHOP LEADER (2)

Friday morning, September 6th 2012. Day Two.
Bilingual PYP & MYP Workshop Leader Refresher Course, Bali International School.


Day two.
One thing circling in my mind for day two was how we learned things more than the information or facts stage. Mostly, what we learned and wanted to learn coming to that stage: learning about facts. This kind of application had a tendency that the learning should be transdisciplinary becoming topical. As PYP teachers, how would we know that we were trapped in topical stage? By closely looking at the central idea we wrote in our planner.


One example that I tried to learn from the central idea I made some years ago.
"The way we use electricity has an impact on our lives and environment"
Reading the central idea, I learned that the central idea looked good but it was topical driven. It was shown from the word 'electricity'.  I really needed to make it like an "umbrella" for my conceptual understanding: a broader understanding.
Therefore, looking at the key concepts used: form, function and connection, I tried to move the topical into conceptual understanding.
"Understanding the use of technology impact our lives and environment".

Then later on, there will be some topics under this conceptual understanding which could be related to electricity use. Then how do we know that the students had grasped their conceptual understanding? The reflection of conceptual understanding could be seen from the students’ questions and actions.

I learned that we needed to drive the students from knowing as the know factual knowledge which was limited by time, place and situation; it should be into understanding the whole picture in order to get every discipline connected. Anyway, the students will not live their lives holding one subject only but they need skills to understand interconnected things.

I still learned some more things. That day, I told all participants "my brain is full" Indeed! I touched my head and it was hotter than any other body parts! Hahaha!

blessing,


Hugo






Friday, September 7, 2012

PYP WORKSHOP LEADER

Thursday morning, September 6th 2012. Day One.
Bilingual PYP & MYP Workshop Leader Refresher Course, Bali International School.

That morning, I found myself restless in one of the rooms at Bali International School. I couldn't lie to myself that it was not easy to adjust myself among the existing PYP/MYPWorkshop Leaders. Though I knew already most of them, still, it was not that easy.

Getting to know each other was the first thing to chill me out of my clumsy atmosphere. Helen and Ashish made a very smooth transition for a rookie like me. The other participants really got everything naturally. The first hour, I felt home.

The first thing that I got in mind was to ask myself humbly to open my horizon in chewing all the information. One by one, bit by bit, the information was transferred to my mind through my ears and eyes that were busy digesting auditory and visually. The role of workshop leader, the connection and the tension happened in a workshop, workshop strategies and many more were digested. Of course, I still needed to make some confirmation to other existing workshop leaders on the instructions given.

The more I know, the more that I don't know was the sentence that I always mentioned whenever I got stuck on ideas to be written. That happened when instructions given from both workshop leaders. Personally, I was in the position of seeking answers for the best practice in learning as workshop leader. Therefore, I didn't hold myself to bother others to guide me. I was lucky that both workshop leaders, Helen and Ashish always put me in the situation where other experienced PYP workshop leaders worked closely with me. For me, their strategy really worked for me. Even better, as I am a type of person that easily learning things through discussion rather than reading books.

Day one ended. Exhausted. More reading, more discussions. One step had been made. Moving forward to day 2 and 3.

blessing,


H

Sunday, June 3, 2012

SEKOLAH : EDUCERE DAN EDUCARE

Sekolah dalam konteks sebagai sebuah gerakan "educere" yang berarti membimbing kepada satu hal, bisa menjadi satu nilai plus. Sebaiknya disadari bahwa sekolah bukan hanya sebuah gerakan "educare" yang mengajarkan ilmu, melainkkan juga "educere" yang menyiapkan generasi untuk suatu gerakan perubahan.

Gerakan perubahan yang diharapkan bukan hanya dari generasi muda yang bersekolah melainkan juga generasi yang menyekolahkan. Sekolah sebagai satu institusi dan sebagai satu tempat, diharapkan bisa menjadi suatu magnet positif yang mengubah pandangan hidup antar generasi. Hal yang dimaksud adalah penerusan tongkat estafet kekuatan positif antar generasi dimana kekuatan negatif akan tergerus.

Apakah hal ini mungkin? sangat mungkin! Generasi yang lebih tua diharapkan menjadi penuntun generasi yang lebih muda. Sebagai penuntun, maka sudah sewajarnya, generasi yang lebih tua menunjukkan kerendahhatian dan juga kerjasama yang baik. Semakin solid satu komunitas generasi yang mempersiapkan generasi penerus di satu sekolah, maka semakin berkembang dengan baiklah visi dan misi yang dimiliki. Namun, apabila generasi yang lebih tua memandang sekolah dalam tolok ukur materi dimana karena telah merasa "membayar" biaya sekolah, maka semuanya diserahkan kepada sekolah, buyarlah gerakan "educere" tersebut. Generasi yang dipersiapkan pun akan terimbas.

Hal yang sering terjadi sekarang adalah tidak disadarinya gerakan "educere" tersebut. Banyak pihak saling tuduh atas kegagalan dunia pendidikan. Satu hal yang tidak perlu dibesar-besarkan karena selayaknyalah generasi yang lebih tua seperti saya dan anda, bisa menelaah dengan kepala dingin. Sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu, melainkan juga mewariskan persiapan-persiapan karakter. Sekolah bukan bagian dari tempat saling menyalahkan atas apa yang disebut "salah asuh". Mengapa demikian? karena sekolah sebagai sebuah institusi punya cita-cita mulia. Individu di dalam sekolahlah yang perlu dicermati sebagai "virus". Individu di dalam sekolah bisa jadi adalah pendidik, siswa dan orangtua.

Mari, kita lebih dalam melihat sekolah yang selama ini hanya kita anggap sebagai "educare" menuju "educere". Kita sebagai generasi yang mempersiapkan diharapkan untuk mentransfer positivisme dalam kehidupan generasi baru. Darimana kita akan memulainya? dari diri kita sendiri dan dari keluarga yang kita cintai.

salam,


H