Thursday, November 24, 2011

PYP EXHIBITION (1)

"The Primary Years Programme (PYP) exhibition represents a significant event in the life 
of a PYP school and student, synthesizing the essential elements of the PYP 
and sharing them with the whole school community".
(IB-PYP Exhibition Guideline, 2008)



For all PYP students around the world, PYP exhibition is surely a big thing. I have been doing the exhibition with my students for six years. For six years, I have seen things are growing differently. The transdisciplinary theme can be the same for two years, but the way the students approached the issues are certainly different. 

In my first year teaching in IB-PYP school, I asked myself: why should we do the exhibition? why bother? Once I jumped in, then I realized how challenging the stage was. I saw how my students applied their PYP attributes within the exhibition preparation totally. The role of the teachers as mentors only took part as a "frying pan". The students are the ingredients, the stove and the fire!


Here I describe the teachers as a "frying pan" because they only a place where the students put everything they find during their independent research. The teachers hold the findings and only the truest and genuine findings can stay within the "pan". After having a "green" light to go, then the students will turn on the stove and lit the fire!

Here also I try to copy what has been mentioned in the exhibition guideline handbook.

The PYP exhibition has a number of key purposes:

  • for students to engage in an in- depth, collaborative inquiry
  •  to provide students with an opportunity to demonstrate independence and responsibility for their
    own learning
  • to provide students with an opportunity to explore multiple perspectives
  •  for students to synthesize and apply their learning of previous years and to reflect upon their journey through the PYP
  •  to provide an authentic process for assessing student understanding
  •  to demonstrate how students can take action as a result of their learning to unite the students, teachers, parents and other members of the school community in a collaborative
    experience that incorporates the essential elements of the PYP
  • to celebrate the transition of learners from primary to middle/secondary education.

(IB-PYP The Exhibition Guideline, 2008)

  After this writing, I will provide you all with the latest process of PYP exhibition conducted by my students at my current school, Tunas Muda International School Meruya, Jakarta, Indonesia. 


blessing,


Hugo






Friday, October 7, 2011

GOOGLE SKETCHUP AND STUDENTS ACTION

In the 21st century learning environment, the use of application programs is unavoidable. Some programs have to be bought before downloaded. The good news is that a lot of programs are made freely for all users around the world.
One program out of many programs that really suits the 21st century teaching and learning is Google Sketchup. Not only teaching the students about shapes and maths application but also giving direction on how the students can take action by designing useful invention for their surroundings.

Therefore, in relation with the technology unit, my year  six students work individually in "designing" a useful technology. Surprisingly, they made things to help Jakarta as the Indonesia capital city. They dreamed to have some useful items such as "pollution house", "anti flood dam", "anti traffic", and many more. Surely, their designs were not the most detail ones as they were the experts. The way they responded on terrible things their city faces was one prove from many that the students had hearts to share with other citizens.

Some of them came to me and asked what I am making on my computer. I told them that I wanted to have a dam that able to avoid us from the flood as well as a water purifying dam. This kind of answered had triggered them to work on their design. Google sketchup really made them like experts. Here are some screen shots. Enjoy them!


blessing,


Hugo







Wednesday, July 20, 2011

BERBAGI ILMU

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan, "mengapa repot-repot menulis blog?"

Mendapat dan Memberi

Buat saya pribadi, menulis di blog adalah satu kepuasan dari penularan pikiran yang tanpa harus diedit oleh pihak lain. Tulisan-tulisan yang saya tulis sendiri merupakan jejak pemikiran yang akan terekam entah sampai kapan. Disamping itu, saya juga bisa mereview pemikiran itu sendiri. Bisa jadi, apa yang saya tulis beberapa hari yang lalu ternyata adalah suatu kekeliruan atau kurang lengkap. Pada akhirnya, langkah-langkah itu mengasah saya untuk lebih maju lagi.

Selain menulis blog, saya juga aktif memberikan workshop atau seminar baik skala nasional maupun mini workshop. Tidak ada masalah bagi saya karena keduanya merupakan penularan ilmu dan juga proses berbagi dan saling mendewasakan. Banyak hal yang saya dapat dari membaca berita yang ditulis para jurnalis seperti halnya ilmu yang saya dapat juga dari teman-teman guru lainnya. Itulah mengapa, saya banyak mendorong teman-teman sejawat untuk "berani" berbagi dalam setiap kesempatan. 

Jago Tandang Bukan Jago Kandang

Seringkali kita melihat diri kita hanya berani berbicara di lingkungan yang mengenal kita. Lebih sering kita menutup diri untuk berbicara di depan mereka yang tidak mengenal kita. "Takut" adalah kata yang sering dipakai. Mengapa takut? Kita semua memiliki perasaan itu, tapi untuk berbagi ilmu dan menimba ilmu, jangan takut!

Inovasi yang kita lakukan sebagai profesional, seharusyalah dibagi. Jangan kita simpan inovasi itu, karena saat pihak lain melakukan hal yang sama, baru kita menuduh mereka "pencontek". Lebih baik kita membagikan inovasi yang kita buat sehingga pengakuan itu datang. Lebih senang, setelah itu ada yang mengembangkan inovasi yang kita ciptakan. Berarti kita telah menginspirasi teman-teman yang lain. Selamat!

Semoga sedikit celoteh saya di tulisan kesekian ini membangkitkan semangat berbagi ilmu buat para pembaca blog ini. Saya masih mencari lebih banyak ilmu dan ingin juga menciptakan inovasi baru dalam pendidikan Indonesia. Ayo!


salam,


Hugo






Monday, July 18, 2011

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

"Satuan pendidikan bertaraf internasional merupakan
satuan pendidikan yang telah memenuhi Standar
Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar
pendidikan negara maju."

(Peraturan Pemerintah No.17 Th. 2010 Bab VIII SATUAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL Pasal 143)


Pada beberapa waktu yang lalu, di beberapa media massa dimuat kabar mengenai adanya perbedaan pendapat mengenai jalannya satuan pendidikan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Pada dasarnya, apa yang diperdebatkan?
Untuk melihat lebih jernih, kira-kira ada beberapa poin yang diperdebatkan. Beberapa poin sebagai berikut:

1. Tidak mengakarkan suatu kurikulum yang jelas. Saya merasa tidak perlu kita mencari kambing hitam untuk membenarkan satu atau dua pihak. Kurikulum yang jelas ada saat ini adalah kurikulum nasional yang diberi label Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Menurut hemat saya, perjelas dulu aplikasi dari KTSP ini di setiap satuan pendidikan. Selain itu, perbekali juga para ujung tombak penjaga kebijakan pemerintahan, yaitu para pengawas sekolah untuk mendapatkan satu kata tentang isi dan pengejawantahannya dalam setiap satuan pendidikan. Kurikulum yang digunakan di banyak negara maju, sebenarnya secara isi tidak jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada kurikulum yang buruk, yang ada adalah tidak maksimalnya kurikulum itu digunakan. Mari instropeksi diri kita, apakah KTSP dilakukan dengan benar atau kita hanya kejar materi pengajaran? Kurikulum kita hendak kita bawakan secara "content based" atau "inquiry based?"

2. Bahasa. Sekolah internasional dalam banyak benak orang Indonesia, adalah sekolah yang menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar. Bisa jadi benar tapi bisa jadi salah juga. Contoh nyata apabila hal itu dianggap benar adalah menjadikan bahasa ibu dianggap bahasa kelas dua. Semakin salah kaprah. Padahal yang benar, menurut hemat saya sekali lagi, adalah bahasa ibu tetap menjadi bahasa yang wajib dipelajari seimbang dengan bahasa asing lainnya. Bahasa ibu dipelajari dikelas dan digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Hanya saja, bahasa asing yang digunakan di sekolah juga diharapkan untuk menjadi bahasa pergaulan sehari-hari juga dengan catatan tanpa memaksakan hal tersebut kepada para perserta didik. Pada akhirnya, anak akan menjadi bilingual sejati dimana mereka berbahasa dengan baik dua bahasa yang dipelajari. Dua bahasa cukup. 

3. Peserta didik. Banyak anggapan bahwa peserta didik untuk RSBI adalah mereka yang berprestasi. Bagaimana dengan mereka yang tidak? sangat tidak adil apabila lingkungan (yang diharapkan) betul-betul internasional education dimana peserta didik mendapatkan pendidikan berwawasan internasional namun tidak melepaskan nuansa lokalnya, hanya untuk mereka yang dikategorikan "pintar" secara test dan nilai. Adilkah itu?

4. Dana Pendidikan. Karena salah kaprah sudah terlanjur terjadi, maka salah kaprah juga menjalar pada uang sekolah yang dikenakan. Semakin jauh dari harapan karena kualitas dan uang yang dikeluarkan tidak sepadan. Buah simalakama!

5. Pencapaian. Banyak pihak yang merasa pencapaian peserta didik dari RSBI tidak sesuai dengan labelnya. Namun sebenarnya, RSBI tidak perlu disalahkan juga karena akar dari pendiriannya juga belum kuat. Hal yang perlu diperbaiki adalah menata "rumah tangga" dahulu. 


Sejujurnya, banyak sekolah negeri maupun swasta yang berkeinginan untuk mendapatkan pengakuan secara langsung atau tidak langsung dengan kualitas pendidikan yang ditawarkan. Hanya saja, memang pemerintah perlu personil yang tegas dan luwes dalam melihat standar internasional sebagai suatu yang bukan "kulit luar" saja. Standar internasional bukan berarti para gurunya harus lulusan S-2 dan sering studi banding ke sekolah di luar negeri, melainkan bisa jadi guru lulusan S-1 dengan sertifikat pendidik dan terlebih penting mempunya hati untuk mendidik bukan melulu bekerja demi mengejar rupiah.

Selain itu, pemerintah juga perlu jujur melihat personil yang menjaga gawang klasifikasi sekolah seperti Sekolah Standar Nasional ataupun RSBI bahkan SBI. Ada banyak hal yang harus dikritisi namun juga perlu kebijaksanaan dalam melihat kesungguhan suatu satuan pendidikan dalam menmpersiapkan suatu standar internasional. 

Jujur, suatu perjalanan panjang untuk mencapai apa yang diinginkan. Namun saya percaya bahwa masih banyak satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang benar-benar ingin memajukan pendidikan di Indonesia ini. Mereka ingin memberikan pendidikan bertaraf internasional yang benar-benar mencakup internasionalisme dan kearifan lokal. Butuh kejelian mata baik mata hati maupun mata kepala kita semua.


salam,


Hugo