Monday, July 18, 2011

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

"Satuan pendidikan bertaraf internasional merupakan
satuan pendidikan yang telah memenuhi Standar
Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar
pendidikan negara maju."

(Peraturan Pemerintah No.17 Th. 2010 Bab VIII SATUAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL Pasal 143)


Pada beberapa waktu yang lalu, di beberapa media massa dimuat kabar mengenai adanya perbedaan pendapat mengenai jalannya satuan pendidikan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Pada dasarnya, apa yang diperdebatkan?
Untuk melihat lebih jernih, kira-kira ada beberapa poin yang diperdebatkan. Beberapa poin sebagai berikut:

1. Tidak mengakarkan suatu kurikulum yang jelas. Saya merasa tidak perlu kita mencari kambing hitam untuk membenarkan satu atau dua pihak. Kurikulum yang jelas ada saat ini adalah kurikulum nasional yang diberi label Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Menurut hemat saya, perjelas dulu aplikasi dari KTSP ini di setiap satuan pendidikan. Selain itu, perbekali juga para ujung tombak penjaga kebijakan pemerintahan, yaitu para pengawas sekolah untuk mendapatkan satu kata tentang isi dan pengejawantahannya dalam setiap satuan pendidikan. Kurikulum yang digunakan di banyak negara maju, sebenarnya secara isi tidak jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada kurikulum yang buruk, yang ada adalah tidak maksimalnya kurikulum itu digunakan. Mari instropeksi diri kita, apakah KTSP dilakukan dengan benar atau kita hanya kejar materi pengajaran? Kurikulum kita hendak kita bawakan secara "content based" atau "inquiry based?"

2. Bahasa. Sekolah internasional dalam banyak benak orang Indonesia, adalah sekolah yang menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar. Bisa jadi benar tapi bisa jadi salah juga. Contoh nyata apabila hal itu dianggap benar adalah menjadikan bahasa ibu dianggap bahasa kelas dua. Semakin salah kaprah. Padahal yang benar, menurut hemat saya sekali lagi, adalah bahasa ibu tetap menjadi bahasa yang wajib dipelajari seimbang dengan bahasa asing lainnya. Bahasa ibu dipelajari dikelas dan digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Hanya saja, bahasa asing yang digunakan di sekolah juga diharapkan untuk menjadi bahasa pergaulan sehari-hari juga dengan catatan tanpa memaksakan hal tersebut kepada para perserta didik. Pada akhirnya, anak akan menjadi bilingual sejati dimana mereka berbahasa dengan baik dua bahasa yang dipelajari. Dua bahasa cukup. 

3. Peserta didik. Banyak anggapan bahwa peserta didik untuk RSBI adalah mereka yang berprestasi. Bagaimana dengan mereka yang tidak? sangat tidak adil apabila lingkungan (yang diharapkan) betul-betul internasional education dimana peserta didik mendapatkan pendidikan berwawasan internasional namun tidak melepaskan nuansa lokalnya, hanya untuk mereka yang dikategorikan "pintar" secara test dan nilai. Adilkah itu?

4. Dana Pendidikan. Karena salah kaprah sudah terlanjur terjadi, maka salah kaprah juga menjalar pada uang sekolah yang dikenakan. Semakin jauh dari harapan karena kualitas dan uang yang dikeluarkan tidak sepadan. Buah simalakama!

5. Pencapaian. Banyak pihak yang merasa pencapaian peserta didik dari RSBI tidak sesuai dengan labelnya. Namun sebenarnya, RSBI tidak perlu disalahkan juga karena akar dari pendiriannya juga belum kuat. Hal yang perlu diperbaiki adalah menata "rumah tangga" dahulu. 


Sejujurnya, banyak sekolah negeri maupun swasta yang berkeinginan untuk mendapatkan pengakuan secara langsung atau tidak langsung dengan kualitas pendidikan yang ditawarkan. Hanya saja, memang pemerintah perlu personil yang tegas dan luwes dalam melihat standar internasional sebagai suatu yang bukan "kulit luar" saja. Standar internasional bukan berarti para gurunya harus lulusan S-2 dan sering studi banding ke sekolah di luar negeri, melainkan bisa jadi guru lulusan S-1 dengan sertifikat pendidik dan terlebih penting mempunya hati untuk mendidik bukan melulu bekerja demi mengejar rupiah.

Selain itu, pemerintah juga perlu jujur melihat personil yang menjaga gawang klasifikasi sekolah seperti Sekolah Standar Nasional ataupun RSBI bahkan SBI. Ada banyak hal yang harus dikritisi namun juga perlu kebijaksanaan dalam melihat kesungguhan suatu satuan pendidikan dalam menmpersiapkan suatu standar internasional. 

Jujur, suatu perjalanan panjang untuk mencapai apa yang diinginkan. Namun saya percaya bahwa masih banyak satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang benar-benar ingin memajukan pendidikan di Indonesia ini. Mereka ingin memberikan pendidikan bertaraf internasional yang benar-benar mencakup internasionalisme dan kearifan lokal. Butuh kejelian mata baik mata hati maupun mata kepala kita semua.


salam,


Hugo

Friday, May 27, 2011

PENDIDIKAN, UNTUK SIAPA?

Judul  di atas bagi sebagian orang sudahlah jelas jawabannya.
Di kalimat ketiga dari artikel inipun, saya akan menjawabnya. Jawabannya adalah untuk anak-anak dan mereka yang selalu merasa butuh pendidikan.

Ketika anak-anak memulai jenjang pendidikan formal mereka, pembelajaran yang mereka terima benar-benar memberikan nuansa baru. Mereka mulai mengenal ada banyak hal yang mereka pelajari di rumah dan banyak hal baru yang mereka pelajari di sekolah. Mereka juga belajar tentang perbedaan pandangan yang bisa jadi mereka dapat dari rumah dan sekolah. Mereka belajar mendengar orang lain terlebih-lebih mendengar apa yang dikatakan guru - terkadang guru lebih didengar daripada orang tua mereka sendiri.

Begitu kuatnya pengaruh pendidikan yang diterima seorang anak dalam keluarga dan sekolahnya, hingga seringkali membekas dalam benaknya. Sayangnya, kita sebagai orang tua dan guru kurang menyadari bahwa kita adalah idola anak-anak kita. Karena ketidaksadaran tersebut, kita sering "menghancurkan" kekaguman mereka terhadap kita. Karena ketidaksadaran pulalah, kita sering juga menanggapi apa yang menjadi kebutuhan pendidikan anak kita terabaikan.

Pendidikan yang didapat anak-anak dari orang tua seperti kita akan membekas. Ketika kita tidak menerapkan aturan yang jelas dalam keluarga, maka anak-anak akan mengambil kesimpulan bahwa hidup itu lebih enak tanpa aturan. Sebaliknya, apabila hidup mereka banyak diatur mulai dari bangun pagi sampai tidur malam, maka mereka merasa aturan-aturan itu dibuat untuk membuat mereka yang mejalankannya sengsara. Serba salah? Tidak juga, asal kita mengerti apa yang harus kita lakukan dan posisi apa yang dirindukan oleh anak-anak kita.

Pendidikan untuk anak-anak pada masa sekarang sungguhlah sesuatu yang kita sendiri tidak bisa bayangkan pada masa kita mendapatka pendidikan untuk pertama kalinya. Begitu banyaknya campur tangan perkembangan teknologi terjadi dalam pendidikan anak di masa kini. Apa yang bisa kita lakukan? Hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah menanamkan budi pekerti yang baik melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu menyadari bahwa pendidikan yang kita berikan sekarang adalah untuk anak-anak kita, maka sewajarnyalah kita menyadari juga bahwa kesederhanaan berpikir menjadi tumpuan dari budi pekerti. Anak akan dengan mudah membandingkan cara bertindak kita terhadap pengemis - misalnya - dengan nasehat yang diberikan oleh guru di sekolah. Anak bisa sangat kritis menegur orang tuanya apabila mengendarai kendaraan melebihi kecepatan dari rambu-rambu yang terpasang di pinggir jalan. Anak juga bisa menngingatkan orang tuanya untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat mereka menjadi malu di depan teman-temannya - semisal mengantar mereka sampai ke depan gerbang sekolah dengan alasan mereka bisa berjalan sendiri beberapa meter sebelum gerbang sekolah.

Apapun yang kita berikan kepada anak-anak kita sebagai bagian dari pendidikan, akan membekas dalam kehidupan mereka di  masa depan. Apabila kita mendidik mereka untuk membeda-bedakan orang lain berdasarkan ukuran kekayaan, maka jangan heran apabila di kemudian hari, anak-anak kita tidak bisa menjadi survivor sejati ketika dibutuhkan. Jangan juga menyesal apabila sekarang kita secara tidak sadar mengajari mereka gaya hidup yang tidak sehat seperti membiarkan mereka melihat kebiasaan minum minuman beralkohol atau merokok. Mereka akan melakukan yang lebih parah dari apa yang orang tua lakukan. Maka tidak heran apabila kita mendengar ada beberapa pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri karena orang tuanya kaya, melakukan tindakan-tindakan konyol demi mencari "jati diri". Mengapa mereka berbuat begitu? karena orang tua mereka begitu permissive terhadap segala tindakan mereka. Menegur anaknya sendiri tidak berani, takut akan menyakiti hati mereka. Pemikiran dan tindakan yang keliru.

Kembali kepada judul artikel ini, marilah kita renungkan. Pendidikan itu untuk siapa? Jangan sampai kita melihat anak-anak kita di masa depan menjadi beban masyarakat. Selagi kita mampu, lakukan banyak hal yang membentuk karakter mereka menjadi manusia yang penuh kasih, kreatif , dan juga peka terhadap lingkungan sekaligus bertutur kata halus dan berpikir jernih.


salam,



Hugo

Monday, April 18, 2011

I WANT TO HAVE MY OWN SCHOOL

After some years in education, my heartstring tells me what I really need to have. Yes! I want to have my own school.
The story will not end up in a sentence. To be honest, I have had my own arrangement on the school's "software". 

Some of the items included in the "software" category are:

1. Curriculum
  The curriculum will be the national curriculum with some additional known as local material (muatan lokal). The curriculum will be delivered using the inquiry method. The curriculum will use national-content textbooks for the teachers only. Workbooks for the students will be provided.

2. ICT integration
   The use of Information and Communication Technology is not in the ICT lab. The school will put the use of ICT within the classroom. There will be no ICT teachers. The class teachers have to be ICT people. The teachers have to be able to think "beyond the future"

3. Teacher-Students-Parents-Teachers = Collaboration
    The learning process will be started from the classroom where the teachers and students have their interaction and students have collaboration among themselves. After the classroom process, then the parents and teachers will have communication through the learning management system portal developed by the school. At the end, the teachers will have a clear, thoroughly feedback from the students and parents displayed through the learning management system portal. It is very 21st century classroom without leaving the person-to-person touch-base. 

To be continued....

Sunday, March 27, 2011

MENCIPTAKAN SEKOLAH BERKARAKTER

Merujuk pada tulisan saya sebelumnya tentang "Sekolah Berkarakter", maka kali ini adalah satu jenjang lanjutan yang lebih terperinci.
Sebuah sekolah yang berkarakter adalah sebuah sekolah yang setiap komponennya setuju dengan karakter yang terbentuk dan juga berbesar hati untuk mengadakan perubahan demi dan hanya untuk pendidikan.

Pada dasarnya, untuk menciptakan sebuah sekolah berkarakter membutuhkan keyakinan, waktu dan ketulusan. Untuk memudahkan kita semua membaca tulisan ini, saya akan membaginya berdasarkan ketiga pilar utama yang tersebut di atas.

1. KEYAKINAN

Memiliki sebuah keyakinan adalah pilar mendasar. Keyakinan yang dimaksud bukanlah agama. Keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan pada apa yang sekolah ingin capai. Beberapa hal yang bisa dilihat dalam pilar keyakinan ini adalah kurikulum dan tenaga pendidik. Sebuah sekolah, baik itu dikelola oleh pemerintah maupun swasta, harus mempunyai keyakinan pada kurikulum dan tenaga pendidik yang mereka kelola. Memang dalam hal ini banyak hal yang harus dilihat lebih mendalam seperti kurikulum nasional yang sekarang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) harus dimaksimalkan pengelolaannya. Terus terang, kurikulum bukanlah suatu hal yang hanya membuat sekolah berorientasi pada target menyelesaikan buku paket melainkan pada kompetensi anak didik.

Kendala yang dihadapi oleh kurikulum nasional kita adalah desain output dari tiap jenjang satuan pendidikan. Apa yang disebut dengan output selalu berkaitan dengan quality control. Quality control selalu berkaitan dengan serangkaian tolok ukur yang harus dilewati para peserta didik untuk dikatakan menyelesaikan jenjang satuan pendidikan. Pada beberapa waktu yang lalu, passing grade untuk UN masih menjadi "momok". Tampaknya hal itu mulai dikurangi dengan adanya penghargaan pada pencapaian peserta didik yang tercatat pada laporan hasil belajar. Waktu mengubah semua itu!

Sebuah sekolah atau satuan pendidikan, haruslah mengakomodir kurikulum nasional dalam pengajaran yang 'istimewa'. Antar satuan pendidikan melakukan pengajaran yang berbeda sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Tenaga pendidik juga haruslah yakin pada kompetensi mereka. Sangat disayangkan apabila tenaga pendidik memilih karir sebagai seorang pendidik hanyalah semata-mata karena mereka tidak mendapatkan karir yang lain. Keyakinan untuk menjadi pendidik adalah suatu keyakinan yang menjadi suatu kebanggaan karena turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Tenaga pendidik juga harus memiliki keyakinan bahwa mereka harus terus berkembang karena ilmu yang ditularkan juga berkembang. Sangat disayangkan apabila seorang pendidik di abad 21 ini masih canggung dengan teknologi masa kini.

2. WAKTU

Mencapai suatu standar yang diidam-idamkan butuh waktu. Ketika kita semua sadar bahwa kita butuh waktu, maka semua komponen dalam sekolah juga harus mendukungnya. Pada umumnya, ketika semua komponen dalam satu sekolah belum sepakat pada yang namanya waktu, mereka akan cenderung saling membandingkan.

Waktu dibutuhkan setiap komponen sekolah. Seorang tenaga pendidik membutuhkan waktu untuk melihat, merencanakan dan mengevaluasi langkah-langkah pembelajarannya. Seorang siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dirinya pada situasi pembelajaran dan lingkungan sekitarnya. Orang tua siswa juga membutuhkan waktu untuk menelaah sikap sekolah dalam rangka pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Semuanya butuh waktu untuk mengerti.

Mengenal waktu berarti menghargai waktu. Menghargai waktu berarti memaklumkan proses. Memaklumkan proses berarti mengerti perbedaan waktu antar siswa yang merupakan individu unik. Kedewasaan intelegensi setiap siswa berbeda-beda. Orang dewasa terkadang lupa bahwa mereka pun pernah mengalaminya. Sering karena tidak memahami proses, siswa menjadi kambing hitam. Ketika di masa depan, siswa tadi menjadi "orang" maka berebutanlah semua orang dewasa mengklaim andilnya.

Mengenal waktu berarti juga mengenal target. Mengenal target berarti mempunyai tujuan pencapaian yang jelas. Mempunyai tujuan yang jelas berarti sebuah kesepakatan akan satu yang terbaik bagi semua.

Masih meragukan waktu?

3. KETULUSAN

Pilar terakhir adalah ketulusan. Ini adalah pilar yang paling sulit. Ketulusan teramat sulit untuk mempunyai sebuah tolok ukur. Namun demikian, bukanlah hal yang mustahil bukan?

Setiap satuan pendidikan harus mempunyai ketulusan terhadap peserta didik. Setiap peserta didik harus mempunyai ketulusan dalam menghidupi pengetahuan yang didapat. Setiap tenaga pendidik harus tulus membimbing peserta didik karena apabila ketulusan terlunturkan oleh banyak pamrih, maka pembelajaran akan menjadi satu rutinitas belaka yang menjemukan.

Ketulusan juga harus diciptakan satuan pendidikan terhadap masyarakat sekitar. Hal ini akan terlihat dengan kerjasama yang signifikan dan berkesinambungan. Apabila peserta didik diarahkan menghidupi pengetahuan yang didapat, maka sangat tidak mustahil apabila ada aksi tulus dari peserta didik terhadap masyarakat sekitar sebagai "buah" pengetahuan.

Para orang tua juga sangat diharapkan ketulusannya dalam membantu proses belajar mengajar. Sering kita temui bahwa satuan pendidikan dianggap sebagai sebuah "pabrik" dimana para orang tua hanya "menitipkan" anak-anak mereka untuk nantinya secara ajaib menjadi "barang jadi". Jangan kita nanti hanya menyesal tanpa tahu harus berbuat apa.


Ketiga pilar tadi tentu saja tidak hanya bagus untuk satuan pendidikan dan komponennya, melainkan bagus untuk sistem pendidikan di negara kita. Tentu saja, proses pemikiran seperti ini masihlah harus ditelaah dan diterjemahkan dalam langkah yang lebih konkrit. Namun saya percaya bahwa kita semua bisa dan generasi yang akan menggantikan generasi sekarang, akan segera berpikir dengan cepat untuk mengadakan perubahan menyeluruh.
Semoga!

salam,


Hugo