Tuesday, January 11, 2011

TUNAS MUDA INTERNATIONAL SCHOOL (TMIS) for MERAPI & MENTAWAI

Here is the slides from our visit to Merapi refugees. The villages are Glagah Harjo and Kepuh Harjo. It is really a tribute to the refugees. Thanks to student council, Parents Association, teachers and staff and of course all students! Blessing!

Song "He Ain't Heavy He's My Brother" from The Hollies 

Wednesday, November 10, 2010

LANGUAGE EXPECTATION

The internationalism has been a trend currently. People want to be still considered local while they also want to be part of international world. One way among many ways in embracing internationalism is to have fluency in some "world languages". 

The languages that people have desire to master are English, France, Latin and Chinese. Besides those four languages, people will automatically master their own mother tongue. In some countries, people can have two mother tongues. Thus, if they learn two other world languages, then these people would be mastering four languages during their lives. 

To be able to use some languages with good standard of fluency must be a great achievement. Some people find it easy as they are language naturalists; some find it hard. 
The rapid changes of world's global economy encourages people to put language as an asset. There are any language courses are established to meet the need of language learners. There are many adults and kids register and learn within language courses. 

Some schools that also want to embrace the internationalism apply certain language policy that they believe will enhance the language skill of their students. However, some schools have made themselves as "risk-taker" by applying "three-languages policy". The expectation is that students at the end of schooling will be able to use three languages in their lives. 

The big question now is whether the students will master the three languages fluently or they will have one language mastered while other languages are just a failure?

Learning a language, I believe must be started with strengthening the mother tongue of a student. Once the mother tongue is established both in school and home, then the students will be able to master another language easily. Another support is that if a family wants the kids want to master two languages, then the family must also exposed every member of family with the correct use of the two languages. What about three languages? I really think that three languages is way too much.

Now, it goes back to school and family policy then.

Thursday, November 4, 2010

Sunday, October 31, 2010

SEKOLAH BERKARAKTER

Tulisan saya sebelumnya yaitu "Membangun Sekolah Berkarakter" belum banyak berbicara mengenai aksi nyata.
Pada tulisan kali ini, saya akan bicara tentang apa itu sekolah berkarakter.

Untuk tidak membuat kesalahpahaman, saya akan dengan jujur menyatakan bahwa semua sekolah mempunyai karakter. Tidak ada sekolah dibentuk tanpa karakter jelas. Karakter sekolah akan menjadi lebih jelas apabila komponen sekolah mengolahnya dengan benar dan terus menjadikan karakter yang hendak dibentuk itu sebagai suatu "nafas" yang benar-benar dihembuskan ke setiap anggota sekolah.

Sekolah berkarakter akan saya bagi menjadi 3. Pertama adalah sekolah berkarakter berdasarkan kultur yang dianut. Kedua adalah sekolah berkarakter berdasarkan kesepakatan anggota sekolah. Ketiga adalah sekolah berkarakter berdasarkan evaluasi.

1. Sekolah berkarakter berdasarkan kultur. Sekolah semacam ini, pada umumnya mempunyai keterkaitan dengan religi, adat-istiadat atau kurikulum tertentu. Banyak sekolah yang berpandangan bahwa nuansa religi yang dibawakan dalam pengajaran di kelas akan membentuk karakter sekolah (termasuk para pembelajarnya) dengan corak tertentu. Semuanya adalah benar belaka; banyak sekolah dengan latar belakang religi yang membuktikan kebenaran ini terlihat dari alumni-alumni sekolah semacam ini. Sekolah dengan kurikulum tertentu juga mengalami hal yang sama. Kurikulum yang dianut oleh sekolah, baik itu kurikulum nasional maupun kurikulum manapun, akan membentuk karakter sekolah. Hanya saja, untuk sekolah yang mencoba membentuk karakter melalui kurikulum, perlu disadari bahwa kurikulum yang dianut haruslah dilakukan dengan semaksimal mungkin. Hal ini dimaksudkan agar karakter tersebut bukan hanya sekedar "tempelan" belaka.
Hanya saja, patut ditengarai bahwa para pembelajar perlu juga diberi wawasan pengenalan akan sekolah dengan karakter yang lain.

2. Sekolah berkarakter berdasarkan kesepakatan anggota sekolah. Untuk sekolah yang memutuskan untuk duduk bersama dan memutuskan karakter seperti apa yang sekolah akan bawakan, tentunya karakter yang akan dibawa adalah yang terbaik. Beberapa sekolah - tentu saja bersama yayasan yang menaungi - telah melakukan hal ini. Namun jujur saja, manajemen sekolah dan yayasan yang lebih banyak memberikan dasar. Sekolah-sekolah yang memutuskan karakter bersama ini lebih cenderung menjadikan sebuah sekolah "eksklusif" dengan tujuan yang baik. Sering sekali sekolah semacam ini melibatkan para pembelajar dalam lingkungan model pamong alias pembimbing. Sekolah-sekolah yang menerapkan kehidupan siswa di sebuah asrama sekolah dapat dikategorikan  sebagai sekolah dengan karakter berdasarkan kesepakatan anggota sekolah (selama religi dan kurikulum bukanlah menjadi yang utama).

3. Sekolah berkarakter berdasarkan evaluasi. Sekolah semacam ini lebih melihat karakter mereka sebagai suatu karakter yang berkembang. Mengapa demikian? ada jangka waktu terterntu yang disepakati yayasan dan sekolah untuk mengevaluasi dan menganalisa karakter yang telah dikembangkan selama beberapa tahun penerapan. Pada umumnya, komponen sekolah yang akan sedikit "bingung" adalah orangtua. Mengapa? karena apabila perubahan yang diambil berdasarkan evaluasi adalah sangat mendasar, maka orangtua akan bereaksi lebih pada khawatir. Pada kenyataannya, sekolah telah memperhitungkannya dengan sangat berhati-hati. Sekolah semacam ini dapat ditemui pada masa sekarang ini dimana banyak sekolah mencoba menjadi bagian dari industri pendidikan. Sekolah semacam ini akan berusaha mencoba melihat mana yang "terbaik" menurut pandangan masyarakat dalam konteks pasar mereka. Maka jangan heran apabila banyak bermunculan jargon-jargon menarik untuk menjaring lebih banyak pembelajar masuk sekolah semacam ini.

Sekali lagi, semua sekolah di atas adalah baik. Semuanya tergantung dari kita sendiri untuk menyikapinya.

salam,


Hugo